KETAHUILAH WAHAI SAUDARAKU SEIMAN SEDARAH DAN SENASIB SEPERJUANGAN MENCARI RIDHO ALLAH, SESUNGGUHNYA MANUSIA TIADA SIA-SIA USAHANYA JIKA DINIATKAN DALAM BEKERJANYA UNTUK MENCARI RIDHO ALLAH DAN BERPRINSIP DENGAN BISMILLAH

Senin, 28 November 2011

Pendekatan Ilmiah dalam Penelitian Agama

A. Pendekatan Ilmiah yang Relevan
Penelitian agama adalah penelitian tentang agama dalam arti ajaran, bilief (sistem kepercayaan) atau sebagai fenomena budaya, dan agama dalam arti keberagamaan (religiousity), perilaku beragama atau sebagai fenomena sosial. Karena itu, diperlukan teori yang relevan untuk penelitian agama. Teori ilmiah itu meliputi teologi (ilmu-ilmu keagamaan), sosiologi, antropologi, psikologi, fiologi (hermeneutika), sejarah, dan filsafat.
Dengan mengutip Wach (1943: 11, 205), Nottingham (1954:1), dan Yinger (1957: 20-1), Dhavamoni mengemukakan bahwa pokok bahasan dari setiap penyelidikan ilmiah terhadap agama adalah fakta agama dan pengungkapannya.
Penyelidikan ilmiah terhadap fenomena agama ini dilakukan oleh berbagai disiplin ilmu. Meskipun membahas pokok pembicaraan yang sama, berbagai disiplin tersebut memeriksanya dari aspek-aspek khusus yang sesuai dengan jangkauan dan tujuan.
1. Sosiologi agama: dirumuskan secara luas sebagai suatu studi tentang inter-relasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi anatar mereka. Anggapan para sosiolog bahwa dorongan-dorongan, gagasan-gagasan dan kelembagaan agama mempengaruhi, dan sebaliknya juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial adalah tepat. Jadi, seorang sosiolog agama bertugas menyelidiki bagaimana tata cara masyarakat, kebudayaan dan pribadi-pribadi mempengaruhi agama, sebagaimana agama itu sendiri mempengaruhi mereka.
2. Antropologi-sosial agama: dalam perspektif kelahirannya, sosiologi digunakan untuk mengkaji masyarakat modern, sementara antropologi mengkhususkan diri terhadap masyarakat primitif. Antropologi sosial agama berkaitan dengan soal upacara, kepercayaan, tindakan dan kebiasaan yang tetap (everyday life) dalam masyarakat sebelum mengenal tulisan, yang menunjuk ada apa yang dianggap suci dan supernatural. Namun sekarang antropologi digunakan untuk meneliti masyarakat yang maju dan kompleks. Antropologi agama memandang agama sebagai fenomena kultural dalam pengungkapannya yang beragam, khususnya tentang kebiasaan, peribadatan dan kepercayaan dalam hubungan-hubungan sosial.
3. Psikologi agama adalah studi mengenai aspek psikologis dari perilaku beragama baik individu (aspek individuo-psikologis) maupun secara berkelompok (aspek sosio-psikologis). Aspek psikologis dari pengalaman religius, seperti berikut:
a) Ketika seseorang berada dalam puncak spiritual seperti mi’rajnya Nabi menghadap sang khalik atau ketika seorang muslim khusyu’ dalam shalat atau orang kristiani dalam doa dan nyanyian.
b) Ketika mengalami masa liminalitas yaitu masa yang tidak menentu, kacau, ambigu, menghadapi cobaan/tantangan seperti saat salah satu anggota keluarga/orang yang dicintai meninggal dunia, seorang ibu akan melahirkan. Seorang perawan akan menuju pelaminan dan lain sebagainya.
Dapat dikatakan bahwa psikologi agama adaah cabang psikologi yang menyelidiki sebab-sebab dan ciri psikologis dari sikap-sikap religius dan berbagai fenomena dalam individu yang muncul dari atau menyertai sikap dan pengalaman tersebut.
4. Sejarah agama: secara ekstrem dapat dikatakan bahwa agama dan keberagamaan adalah produk sejarah. Al-quran sebagian besar berisi tentang sejarah dan ilmu-ilmu keislaman. Menurut Shiddiqi (Abdullah dan Karim, 1990: 72), karakter yang menonjol dari pendekatan sejarah adalah tentang signifikansi waktu dan prinsip-prinsip kesejarahan tentang indivi-dualitas dan perkembangan. Melalui sejarah dapat diketahui asal-usul pemikiran/pendapat/sikap tertentu dari seorang tokoh/madzhab/golongan. Melalui ilmu asbab al-nuzul dan asbab al-wurud dapat diketahui maksud sebuah teks al-quran atau keshahihan sebuah hadits. Melalui sejarah pula dapat diketahui stereotype keberagamaan suatu kelompok dan sikap suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

Dalam prakteknya, sebuah penelitian agama dapat menggunakan satu pendekatan saja atau beberapa pendekatan, baik yang bersifat disipliner, interdisiplin maupun multi disiplin.
B. Penelitian Agama dengan Pendekatan Teologis
1) Pengertian Teologi
Istilah teologi lahir dalam tradisi kristen. Secara harfiah, teologi berasal dari bahasa Yunani, theos dan logos yang berarti ilmu ketuhanan. Dalam Islam dikenal dengan ilmu kalam yang berarti perkataan-perkataan manusia tentang Allah (Abednego, 1994:14). A. Hanafi mengartikan ilmu kalam sebagai upaya memperthankan keyakinan seputar masalah ketuhanan dari serangan-serangan pihak luar dengan menggunakan pendekatan filsafat atau dalil-dalil aqli.
Dalam Encyclopaedia of Religion and Religions, dikatakan bahwa teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam semesta, namun seringkali diperluas mencakup seluruh bidang agama.
Ada tiga segi ketika membicarakan teologi, antara lain: teologi aktual yaitu berteologi yang melahirkan keprihatinan iman dalam wujud tingkah laku sehari-hari, teologi intelektual yaitu teologi yang melahirkan pemikiran keagamaan yang berjilid-jilid yang hanya dipahami oleh para alim di bidang ini, dan teologi spiritual yang melahirkan perilaku mistik.
2) Teologi sebagai Metode Studi Agama
Pendekatan teologi dalam studi agama adalah pendekatan iman untuk merumuskan kehendak Tuhan berupa wahyu yang disampaikan kepada para nabinya agar kehendak Tuhan itu dapat dipahami secara dinamis dalam konteks ruang dan waktu. Karena itu, pendekatan teologis dalam studi agama disebut juga pendekatan normatif dari ilmu-ilmu agama itu sendiri. Secara umum, metode teologis/normatif dalam studi agama bertujuan untuk mencari pembenaran dari suatu ajaran agama atau dalam rangka menemukan pemahaman/pemikiran keagamaan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara normatif idealistik.
Dalam dinamika sejarah, umat masing-masing agama berupaya meneguhkan doktrin agama masing-masing dalam sistem pengetahuan keagamaan yang pada gilirannya melahirkan ilmu-ilmu keagamaan. Dalam Islam ilmu-ilmu keagamaan (keislaman) itu telah berkembang sedemikian rupa dan melahirkan karya-karya besar dalam bidang al-quran, hadits, fikih, dan tashawuf.
C. Penelitian Agama dengan Pendekatan Sosiologis
Sosiologi agama mempelajari aspek sosial agama. Objek penelitian agama dengan pendekatan sosiologi menurut Keith A. Robert memfokuskan pada:
1) Kelompok-kelompok dan lembaga keagamaan (meliputi pembentukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharannya, dan pembubaran-nya).
2) Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut (proses sosial yang mempengaruhi status keagamaan dan perilaku ritual).
3) Konflik antar kelompok (Robert, 1984:3).
Yang dimaksud kelompok-kelompok dan lembaga keagamaan adalah pranata-pranata sosial yang menjadi infrastruktur tegaknya agama dalam masyarakat, yang meliputi organisasi keagamaan (sekte, cult, gereja/ormas keagamaan), pemimpin keagamaan(ulama, kiai, pendeta), pengikut suatu agama (jamaah, warga), upacara-upacara keagamaan ritus, ibadah, kebaktian, doa), sarana peribadatan (masjid, gereja, pura), dan proses sosialisasi doktrin-doktrin agama (sekolah, pesantren, masjid, gereja).
Kajian tentang perilaku meliputi:
1) Perilaku individu dalam hubungannya dengan keyakinan yang dianut seperti pengalaman keagamaan.
2) Perilaku individu dalam hubungannya dengan kelompok.
3) Perilaku individu dalam hubungannya dengan pemimpin.
4) Perilaku kelompok/jamaah dalam hubungannya dengan sistem simbol/doktrin keagamaan tertentu.
5) Perilaku kelompok dalam hubungannya dengan pemimpin.
6) Stratifikasi sosial.
7) Perilaku pemimpin/elit agama dalam hubungannya dengan sistem simbol/doktrin keagamaan.
8) Perilaku elit agama dalam hubungannya dengan stratifikasi sosial.
D. Penelitian Agama dengan Pendekatan Antropologi
Antropologi cenderung mengkhususkanpada masyarakat primitif. Namun, sekarang tidak hanya cenderung terhadap masyarakat primitif, melainkan juga masyarakat yang kompleks dan maju, menganalisis simbolisme dalam agama dan mitos, serta mencoba mengembangkan metode baru yang lebih tepat untuk studi agama dan mitos. Antropologi agama memandang agama sebagai fenomena kultural dalam pengungkapannya yang beragam, khususnya tentang kebiasaan, peribadatan, dan kepercayaan dalam hubungan-hubungan sosial.
Yang menjadi fokus penelitian dengan pendekatan antropologi agama secara umum adalah mengkaji agama sebagai ungkapan kebutuhan makhluk budaya yang meliputi:
1. Pola-pola keberagamaan manusia, dari perilaku bentuk-bentuk agama primitif yang mengedepankan magic, mitos, animisme, totemisme, paganisme pemujaan terhadap roh, dan polyteisme, sampai pola keberaga-maan masyarakat industri yang mengedepankan rasionalitas dan keyakinan monoteisme.
2. Agama dan pengungkapannya dalam bentuk mitos, simbol-simbol, ritus, tarian ritual, upacara pengorbanan, semedi, selamatan.
3. Pengalaman religius, yang meliputi meditasi, doa, mistitisme, sufisme.


Sumber:
Suprayogo Imam, Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung. Rosdakarya. 2003.